Sponsor

Youtube

senior Jomblo yang Ganteng

Penulis Asriyah Latief

SENIOR JOMBLO

“Serius dia masih Jomblo?” ucapku berseru seolah sesuatu yang begitu penting baru saja kudengar.
“Heboh amat sih denger ada orang masih jomblo,” ucap Win sahabatku merasa lucu dengan ekspresiku yang diluar dugaannya saat tahu salah seorang senior kami masih jomblo di usia dia yang sudah hampir 40 tahun.

“Yah aneh aja sih, Win. Cowok seganteng dia masih jomblo sampe sekarang. Sementara teman-teman seangkatan dia kebanyakan sudah punya 3 orang anak.” Ucapku masih tak percaya dengan informasi yang benar-benar baru buatku.
“Emang aku harus bilang apa biar kamu bisa percaya,” seloroh Win mulai tak sabaran melihat kenaifanku atas informasi yang ia sampaikan padaku.

“Gila yah, cowok secakep dia masih jomblo sampe sekarang. Tau gitu dari dulu kugodain,” ucapku menerawang sambil terkekeh.
“Apaan sih, cowok cakep itu manusia, Pris, bukan benda yang bisa kamu comot sesuka hatimu,” ucap Win sewot. Sikapku memang sedikit aneh setelah tahu kalau senior kami yang bernama Pino itu ternyata masih sendiri.

“Apa sih yang dia cari  dalam hidupnya. Dia punya wajah cakep yang kayak londo. Berpendidikan. Mapan. Kayakya dia sempurna deh,” ucapku lagi lebih mirip bergumam.
“Sana godain aja klo kamu berani. Kalaupun kamu berani pasti kamu tidak akan berhasil. Dia itu gunung es yang beku. Bahkan sinar matahari sepanjang tahun tak akan bisa meluluhkan hatinya,” balas Win membuatku menoleh padanya.
“Serius?” tanyaku tak percaya.
“Dua rius,” ucap Win yakin.

“Apa mungkin dia tak akan tergoda dengan perempuan semanis aku?” ucapku membanyol dibarengi tawa.
“hahahahaha....,” Win tertawa  terbahak-bahak. “Dia gak suka perempuan dengan hidung minimalis kayak hidungmu,” ejek Win seraya menarik ujung hidungku.
“Eh jangan salah, Win. Ini hidung pembawa hoki lho,” balasku seraya mencubit lengannya.
“Coba aja klo memang kamu cukup punya keberanian untuk itu, tapi aku takutnya kamu patah hati,” ucap Win lagi dengan nada yang mulai serius.
“Hmmmmmm....,” gumamku seraya menerawang pada wajah cakep yang dulu pernah menjadi seniorku di sebuah organisasi kampus.
***
Langit mulai memerah di ujung senja. Kutarik kain penutup jendela berwarna silver yang ada dalam kamarku. Langit tampak begitu anggun ketika senja menampakkan wajahnya. Perlahan kupejamkan mata. Anganku menari pada beberapa kenangan bertahun-tahun lalu. Ah, mana mungkin dia masih sendiri sekarang, rasanya tidak masuk akal. Batinku.
Tahun-tahun yang telah lama kami tinggalkan di masa lalu telah berganti. Tapi anganku tak bisa kuredam untuk kembali ke masa 17 tahun lalu itu. ketika menjadi mahasiswi dan semangat mencari jati diri meluap-luap. Berbagai organisasi coba kumasuki. Hanya untuk memuaskan gejolak darah mudaku.

Bergabung di sebuah organisasi keislaman adalah langkah awal. Sebuah organisasi mahasiswa Islam yang sedikit radikal. Aku tak bertahan lama di sana karena ada beberapa paham yang menurutku bertentangan dengan ideologi yang aku anut dan aku pahami sejak sebelumnya aku berguru di sebuah pondok. Tak lama berselang akhirnya aku bergabung pada sebuah organisasi mahasiswa pecinta alam. Aku lumayan aktif pada organisasi ini, bahkan aku sempat punya dua orang pacar di sini. Rasanya memang lucu ketika mengenang banyak hal di masa muda setelah semua sudah berlalu bertahun-tahun lamanya. Kadang-kadang bahkan terasa ingin mengulangi kejadian di masa lalu dan memperbaiki segala sesuatu yang dirasa keliru.

Tapi kali ini anganku benar-benar menarikku kembali pada masa 17 tahun itu. ketika aku menjadi salah satu anggota mahasiswa pecinta alam. Semua terasa menyenangkan. Aku bahkan kerap lebih mementingkan kegiatan organisasi ketimbang kuliah. Abangku yang mencium gelagatku yang seolah tidak serius kuliah beberapa kali mengomeliku. Tapi semua percuma. Aku merasa menemukan diriku yang utuh di sana.

Hampir setiap minggu aku dan anggota mapala lainnya meninggalkan Jogja menuju tempat-tempat latihan kami. Terkadang ke tebing di Kulun Progo berlatih panjat dinding. Atau minggu berikutnya ke sungai Serayu berlatih arung jeram. Aku mungkin bukan anggota yang selalu ikut dalam setiap kegiatan, tapi aku selalu menyempatkan diri mengikuti semua kegiatan sebisaku. Terlebih jika awal bulan dan kiriman ibu sudah mengisi rekeningku. Aku tak mementingkan membeli perlengkapan lain selain ikut kegiatan yang hampir setiap minggu ada jadwalnya.

Tapi dari semua kenangan manis itu tak sekalipun terbersit di pikiranku bahwa salah seorang senior kami masih menjomblo hingga kini. Wajahnya tampan. Perawakannya tinggi. Kulitnya putih bersih. Hidungnya mancung. Tatapan matanya teduh. Aku jadi menarik nafas dalam-dalam mengetahui kenyataan yang baru saja kutahu dari Win.

“Dia kan emang gak pernah pacaran jaman kuliah dulu Pris. Jangankan pacaran, dekat ama cewek aja dia gak pernah.” Win mengukuhkan pejelasannya siang itu padaku.
Aku kembali menerawang pada kejadian bertahun-tahun lalu. Aku memang tak menemukan Pino pernah dekat dengan seorang perempuan. Tapi dulu itu luput dari perhatianku. Memangnya aku ikut organisasi mapala untuk tahu semua hal pribadi menyangkut anggota kami. Aku bahkan tak pernah tahu kalau dia memang tidak pernah dekat dengan cewek. Kupikir dia sudah punya pacar di Kampus, apalagi dia tergolong cowok cakep yang pastinya banyak di gandrungi cewek-cewek.

“Bagaimana mungkin dia bisa ketemu cewek di kampus. Diakan ambil jurusan yang mahasiswanya di dominasi cowok. Kalau pun ada cewek di fakultasnya, pasti ceweknya juga tomboi dan tidak mungkin mengejar-ngejar dia,” Lagi-lagi Win mematahkan argumentasiku mengenai pacar Pino.
“Lha... trus di organisasi kita kan dulu ada cewek. Pasti ada yang pernah dekat dengan dia.” Ucapku mencari-cari alasan.
“Masih ngeyel aja sih kamu. Di organisasi kita itu ceweknya bisa dihitung jari. Kalaupun ada ceweknya pasti dia sudah kalah bersaing dengan cowok-cowok yang gak cakep tapi agresif dan punya keberanian mendekati cewek. Gak kayak dia, walaupun cakep tapi tak punya keberanian mendekati cewek.” Win selalu punya alasan untuk mematahkan argumentasiku.

Aku menelan ludah. Masih tak percaya dengan apa yang aku ketahui tentang senior jomblo kami yang ganteng. Pantas saja saat aku pertama kali melihatnya berseliweran di media sosial tak satupun aku menemukan upload fotonya dengan seorang perempuan yang intens. Aku bahkan mencoba mengumpukan informasi dengan membuka akun sosial medianya hingga kepostingannya bertahun-tahun lalu tapi yang kutemukan nihil. Tak ada foto perempuan atau anak kecil yang bisa kuidentifikasi sebagai keluarga kecilnya. Win memang benar. Dia masih sendiri dan aku harus menerima kenyataan itu bahwa ternyata kegantengannya tidak serta merta membuatnya menemukan seorang perempuan sebagai tambatan hati.

“Kenapa sih Pris kamu kok jadi kepo begitu tahu bang Pino masih jomblo. Kamu suka yah?” tanya Win diakhir obrolan kami.
“Nggak kenapa-kenapa sih Win. Aku hanya merasa ada sesuatu yang tertinggal di masa lalu yang urung aku tuntaskan,” ucapku tak yakin apa yang aku ucapkan.
“Atau kamu pernah suka sama dia?” lagi-lagi tanya Win padaku dengan suaranya yang nyaris tak terdengar. Win menggodaku.

“Entahlah, tapi kalau boleh jujur dulu aku berharap dia yang mendekatiku, bukannya Bang Zul.” Jawabku sekenanya.
“Bang Zul atau munyuk Bolot itu?” ucap Win berkelekar.
“hahahaha... kamu ingetin aja ih. Kalau boleh mengulang waktu, aku pengennya yang deketin aku dulu itu Bang Pino bukan Bang Zul atau munyuk Bolot,” Sergahku.
“Apa karna Bang Pino cakep?”
“Bukan,” jawabku cepat.
“Lantas?”
“Laki-laki yang tak punya cukup keberadian mendekati perempuan akan menjadi laki-laki setia andai dia telah menemukan satu tambatan hatinya,” jawabku penuh keyakinan.
Win terkekeh. “Hahahaha... kamu berharap yah menemukan seorang laki-laki setia?”
“Sekarang sih aku tidak berharap apa-apa kok Win. Aku sudah menemukan jalanku sendiri. Setelah kegagalan dalam rumah tanggaku bertahun-tahun lalu. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk tetap bertahan dalam kesendirian. Menemukan Bang Pino masih menjomblo juga tidak serta merta membuatku ingin mengejarnya dan mengakhiri masa lajangku. Tapi....,”
“Tapi apa?” potong Win.
“Tapi aku hanya merasa ada yang tertiggal dari masa lalu yang belum tuntas.” Jawabku yakin.
“Kau ingin menuntaskan rasa penasaranmu pada Bang Pino?”
“Bukan begitu juga maksudku,” jawabku cepat.
“Ah kau terlalu bertele-tele Pris.” Ucap Win sebelum berlalu.

***
Senja telah mengabur. Langit mulai menghitam. Hanya sedikit bintang bertebaran di langit. Aku terduduk di depan meja dan laptopku yang sedang menyala. Anganku menerawang. 17 tahun lalu di kaki gunung Lawu. Aku berlari pontang panting di antara anggota reguku. Seorang pria dengan carier gede yang disandang di pundaknya berjalan dengan gagah. Matanya awas menatap jalan setapak di depannya. Dia begitu gagah terlihat olehku. Senyum kecilnya sesekali tersungging, meskipun yang lebih sering terlihat olehku wajahnya yang serius mendampingi kami para peserta Diksar yang ingin bergabung dalam organisasi kepecinta alaman.

“Siapa nama kamu?” tanya laki-laki tinggi berkulit putih yang selalu kutatapi sembunyi-sembunyi.
“Prisilia,” jawabku dengan nada datar. Jantungku berdengup kencang. Aku berharap pertanyaan itu dia lontarkan di suasana yang berbeda. Setidaknya bukan pada belantara luas yang jauh dari kedua orang tua dan kawan-kawanku.
“Aku tidak tanya nama asli kamu. Siapa nama lapangan kamu?” tanyanya lagi dengan nada yang terdengar menakutkan.
“Bebek,” ucapku sedikit bergidik. Andai saja dia bisa melembutkan sedikit suaranya. Mungkin aku akan kasmaran seketika itu juga.
“Push up kamu!!” bentaknya membuyarkan semua lamunanku tentang suasana indah dan romantis.

Kulepaskan ranselku ke tanah dan segera melakukan apa yang dia perintahkan. Ah Pino. Begitulah aku menyimpan kenangan pertama kali mengenalnya. Dia seniorku, senior cakep yang masih jomblo bahkan setelah 17 tahun berlalu. (to be Continue)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "senior Jomblo yang Ganteng"

Post a Comment